Depok (23 /11/2024) Kegiatan dimulai dengan registrasi setelah kami tiba di Parung, Depok, usai menempuh perjalanan pada tengah malam. Suasana akrab langsung terasa saat Pembukaan di Aula Garuda berlangsung khidmat dan meriah, meskipun sempat ada kendala teknis pada sound system. Hal ini justru diatasi dengan elegan. Bahkan di tengah lagu Indonesia Raya, para peserta tetap mantap menyelesaikannya, lalu melanjutkan dengan menyanyikan Mars Sang Surya tanpa iringan musik.
Sambutan pertama disampaikan oleh Prof. Irwan Akib,, M.Pd., Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang membidangi Majelis Dikdasmen. Beliau membuka dengan refleksi mendalam tentang makna sekolah unggul: sekolah yang mampu menolak murid karena penuh pendaftar, bukan yang justru ditolak murid. Beliau menegaskan bahwa kepala sekolah unggul seharusnya bekerja lebih dari delapan jam sehari. “Harus bisa menyaksikan guru dan murid datang ke sekolah, serta memastikan mereka pulang membawa ilmu,” katanya.
Beliau juga mengingatkan agar tidak cepat puas dengan pencapaian sekolah saat ini. Menurutnya, sekolah yang merasa sudah berada di puncak harus waspada karena grafik bisa menurun jika tidak terus berbenah. Pesan ini mengingatkan saya pada ungkapan seorang rekan: “Jangan lengah, kompetitor sedang berbenah!” Pesan ini menguatkan tekad saya untuk terus mengevaluasi, memperbaiki, dan menyempurnakan kualitas pendidikan di sekolah yang saya pimpin.
Selanjutnya, Prof. Didik Suhardi, M.Ed., memberikan sekapur sirih yang singkat namun bermakna. Beliau menyinggung program Calon Sekolah Penggerak, yang nantinya akan terus dievaluasi dan hasilnya dilaporkan pada Muktamar Muhammadiyah 2025 di Medan. Beliau juga menyampaikan bahwa Majelis Dikdasmen memperoleh skor kinerja tertinggi di antara majelis lainnya, yaitu 90 dari skala 100. Ini menjadi bukti nyata kesungguhan Muhammadiyah dalam memajukan pendidikan. Salah satu langkah strategis yang disampaikan adalah penyusunan kurikulum terpadu tingkat dasar dan menengah, yang mengintegrasikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dengan pelajaran umum. Kabarnya, Gramasurya akan mencetak buku-buku tersebut untuk memenuhi kebutuhan sekolah Muhammadiyah.
Sebelum kami rehat, Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, memberikan pencerahan yang sangat membangun. Beliau mengingatkan bahwa sejak awal berdiri, Muhammadiyah telah menjadi inovator pendidikan, menggabungkan pelajaran agama dan umum—sesuatu yang sangat tidak lazim di masanya. Beliau mengajak Muhammadiyah untuk bangkit kembali dan merebut identitas unggulnya sebagai pelopor pendidikan berkemajuan.
Beliau juga menyampaikan kabar baik, termasuk tentang hilal program P3K untuk guru di sekolah swasta yang mulai terlihat meski belum resmi. Selain itu, evaluasi E-Kinerja bagi guru sertifikasi akan disederhanakan agar tidak membebani mereka dengan tugas administratif yang berlebihan. Fokus pemerintah saat ini adalah memperkuat pendidikan karakter melalui pendekatan deep learning, yang membutuhkan penguatan peran wali kelas sebagai konselor siswa. Sambutannya yang panjang namun diselingi guyonan segar membuat suasana terasa hangat, membangun optimisme di antara kami semua.
Pada sesi berikutnya, dua jam berselang, Dr. Dirgayuza Setiawan, Ph.D., tampil dengan diskusi yang sangat berbobot tentang strategi pembangunan pendidikan di Indonesia. Dengan gaya penyampaian yang sistematis, beliau menjelaskan konsep piramida kontribusi dalam menciptakan ilmu pengetahuan. Menurutnya, hanya 1% individu yang mampu menjadi pencipta ilmu pengetahuan baru. Mereka inilah yang memimpin inovasi global, menciptakan teknologi dan konsep yang mengubah dunia. Selanjutnya, 9% adalah para komentator, analis, dan ilmuwan.
Semoga kegiatan Rakornas calon sekolah/Madrasah Unggul Muhammadiyah berjalan dengan lancer hingga selesai. ( HUMAS MTs MUHISA_ NY)

