Bandar Lampung (Muhisa)- Sebagaimana telah diketahui, Muhammadiyah adalah salah satu organisasi Islam yang sangat terkenal di Indonesia. Terkenalnya Muhammadiyah karena memiliki banyak perbedaan dalam hal pelaksanaan ibadah. Bahkan banyak orang awam yang mengganggap Muhammadiyah sebagai aliran baru dalam agama Islam. Padahal dalam pengamalannya, Muhammadiyah berdasarkan kepada Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW. Karena anggapan sebagian masyarakat itulah yang menyebabkan sebagian orang yang bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah tidak mengakui bahwa mereka ada di Muhammadiyah.

Salah satu contoh nyatanya adalah guru di sekolah Muhammadiyah banyak yang tidak bangga dan tidak mengakui jika dirinya termasuk Muhammadiyah. Hal ini terjadi karena banyak yanng tidak paham dengan konsep dan prinsip Muhammadiyah. Padahal sebenarnya orang yang berMuhammadiyah itu mereka mengamalkan ajaran yang ada di Al-Quran dan Hadits Rasul.

Pada kesempatan Sabtu (12/11), Bapak Thabrani M. Zuhri, S. Ag, selaku Sekretaris PDM Kota Bandar Lampung menyampaikan kajiannya mengenai Kemuhammadiyahan dalam kegiatan Pengajian Guru Muhisa. Sebagai Informasi, Pengajian Guru & Tendik Muhisa merupakan salah satu program bidang ISMUBA (Al-Islam, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab) MTs Muhammadiyah yang di koordinatori oleh Ust. Dwi Arianto, S. Pd. Program ini rutin dilaksanakan setiap Sabtu, minggu kedua setiap bulan guna menambah wawasan dan ilmu para guru di MTs Muhammadiyah khususnya ilmu agama.

Dalam kajiannya, Bapak Thabrani menyampaikan bahwa guru yang berada di sekolah Muhammadiyah harusnya bisa dengan bangga dan mengakui bahwa dirinya adalah guru Muhammadiyah, bukan hanya sekedar guru yang ada di Muhammadiyah karena jika hanya menjadi guru di Muhammadiyah, dia hanya akan datang untuk mengajar lalu selesai dan pulang. Tidak ada kontribusi apapun di Muhammadiyah. Beliau menyampaikan bahwa orang yang berada atau bekerja di AUM Muhammadiyah itu harusnya karena kesadaran hati bukan karena tuntutan pekerjaan saja.

Beliau juga menyampaikan tiga hal penting yang harus dimiliki guna menanamkan nilai-nilai berMuhammadiyah di Sekolah. Pertama, Integritas. Dalam integritas terdapat sembilan nilai nilai inti yaitu, jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani dan adil. Rasulullah SAW mendapatkan julukan al-Amin (yang dapat dipercaya) salah satunya dikarenakan Rasulullah memiliki integritas yang tinggi. Kedua, Komitmen. Komitmen berarti kesepakatan. Guru yang males mengajar, mengajarnya asalah-asalan  itu bukan berarti tidak memiliki komitmen, hanya saja komitmen yang dimilikinya itu rendah. Beliau juga menyampaikan salah satu bentuk komitmen untuk guru MTs Muhammadiyah adalah hadir di Pengajian Guru Muhisa. Ketiga, Loyalitas. Loyalitas utama yang harus ditanamkan adalah loyalitas kepada Allah swt. dan Rasulullah saw. Harus setia kepada hukum-hukum Allah. Karena salah satu ciri orang beriman adalah sami’na wa atho’na.

Dengan memiliki ketiga nilai tersebut, diharapkan para guru di MTs Muhammadiyah bisa menjadi guru Muhammadiyah, bukan hanya sekedar guru di Muhammadiyah, yang bisa bersama sama menjunjung tinggi ajaran Islam sehingga mendapatkan karunia dan Ridho Allah swt. sehingga tercapai “Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur”, yaitu suatu negara yang indah, bersih, suci dan makmur dibawah perlindungan Tuhan Yang Maha Pengampun.

Diakhir kajiannya, Pak Thabrani menyampaikan harapannya semoga dengan Muhammadiyah akan mengantarkan ke gerbang Jannah. ” Mengutip kalimat terakhir Mukodimah Angaran Dasar Muhammadiyah,  mudah-mudahan dengan kita berMuhammadiyah dengan ikhlas, ini bisa mengantarkan kita ke gerbang Jannatun Na’im”. Tuturnya, serta langsung di Aamiinkan oleh seluruh peserta kajian yang semuanya adalah Guru maupun Tendik MTs Muhammadiyah Sukarame.

(IT Muhisa/NRL)

YUK TONTON PROFIL MTs MUHAMMADIYAH SUKARAME